Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspirasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspirasional. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juni 2012

HIDUP SAMPAI TUA , BELAJAR SAMPAI TUA

Pepatah pada judul di atas mengandung pengertian yang sangat mendalam. Yakni, proses belajar harus menyatu sebagai bagian dari kehidupan. Sepanjang hayat masih di kandung badan, semaksimal masa itu pulalah kita seharusnya belajar.

Tentu, belajar bukan sekadar mengumpulkan berbagai teori. Namun, belajar haruslah mampu menjadi sarana bagi kita untuk terus menyerap berbagai materi sebagai bekal praktik kehidupan. Seperti juga kata bijak dari barat yang menyebut bahwa "learning is never ending journey". Maka, semakin kita belajar, semakin kaya kita dengan pengetahuan dan semakin banyak kebisaan yang bisa kita jadikan bekal meraih kesuksesan.

Saya sendiri memaknai "Hidup sampai tua, belajar sampai tua" adalah sebuah proses kehidupan dan perjuangan yang tanpa batas. Dan, semua ini bukan sekadar omong kosong belaka, bukan pula sekadar pengetahuan yang memuat teori semata. Tetapi, semua sudah saya jalani dan alami selama ini.

Kesadaran bahwa hidup adalah proses belajar berjuang sampai tua-bahkan hingga berkalang tanah-hal ini tentu akan menggugah keberanian kita untuk menjalani kehidupan dengan penuh gairah! Saat kita menghadapi tantangan dan ujian, dengan semangat seorang ksatria, kita berani berjuang menjadikan semua halangan menjadi pijakan keberhasilan. Saat kita mengalami hadangan masalah yang nyaris tanpa henti, kita selalu memiliki semangat untuk mencari solusi.

Kesadaran akan proses belajar dan berjuang akan membuat kita tidak mudah mengeluh, menuduh, apalagi menyalahkan orang lain sebagai kambing hitam persoalan. Sebab, kita sepenuhnya sadar bahwa semua itu hanyalah sarana belajar untuk mengembangkan kekayaan mental dan menumbuhkan kebijaksanaan dalam kehidupan.

Mari, mengarungi kehidupan dengan pandangan positif dan penuh rasa optimis. Saat kita berhasil mewujudkan impian, kita tak terjerumus dalam jurang keangkuhan. Begitu pula sebaliknya, saat mengalami kegagalan, kita tak terperosok dalam penyesalan yang mendalam. Apa pun yang kita hadapi, apa pun yang terjadi, kita selalu menyikapi dengan penuh kebijakan, karena semua pastilah mengandung pembelajaran.

Dan harus kita pastikan, bahwa saat belajar, kita bukan semata menjadi objek yang hanya menjadi pengumpul teori. Tapi, tentukan bahwa diri kita adalah subjek yang bekerja aktif, berjuang, serta berkarya dengan modal ilmu yang kita dapatkan. Dengan begitu, kita akan menjadi sang pembelajar yang berani menentukan target dan memperjuangkan semua impian agar menjadi kenyataan.

Terus belajar dan berjuang, sampai ajal kan datang, maka sukses bukan sekadar angan-angan.


ORANG KAYA YANG MISKIN

Dikisahkan, seorang bangsawan mempunyai seorang pembantu setia yang telah bekerja padanya sedari kecil. Pembantu itu adalah anak yatim piatu terlantar yang dipungut oleh ayahnya di suatu tempat. Sedangkan si bangsawan adalah orang yang hidup berkelimpahan harta, gemar berfoya-foya, namun tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang miskin dan menderita.

Suatu hari, si majikan memberi tugas kepada pembantu tersebut untuk pergi ke luar kota menagih utang. Sebelumnya, dengan nada pongah dia berpesan, "Pembantuku, setelah kamu berhasil menagih semua uang itu, pergilah berkeliling kota untuk mencari dan membelikan barang yang belum aku miliki!"

Di dalam hati, si bangsawan tertawa geli. Sebab, dengan pesan ini, ia ingin mempermainkan pembantunya. Dia tahu bahwa tidak ada suatu barang berharga apapun yang belum dimilikinya.

Beberapa hari kemudian, saat pembantunya pulang, si bangsawan menyambutnya dengan antusias. Ia ingin tahu barang apa yang berhasil dibeli oleh pembantunya. Tetapi, alangkah kaget dan marahnya ia, ketika tahu bahwa uang yang berhasil ditagih, dihabiskan si pembantu dengan memberikan barang-barang kepada orang-orang miskin di sana. Tanpa mau mendengar lebih lanjut alasannya, si pembantu dihukum dan diperlakukan dengan buruk.

Suatu ketika, terjadi bencana alam yang luar biasa di sana. Seluruh harta si bangsawan musnah dan dia pun jatuh bangkrut! Karena musibah tersebut, sang bangsawan memutuskan untuk pergi ke kota lain guna mencari kehidupan baru. Sementara, sang pembantu yang sering dicacinya, tetap setia mengikutinya.

Setelah berjalan berhari-hari, keduanya tiba di sebuah kota. Penduduk di sana menyambut mereka dengan baik dan ramah. Bahkan, banyak di antara mereka yang memberi makan dan tumpangan. Mendapat perlakuan yang sangat ramah tersebut, si bangsawan keheranan. Ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu. Lantas, ia pun bertanya kepada si pembantu.

Pembantu itupun kemudian memberi penjelasan, "Tuanku, saya pernah kemari beberapa waktu lalu. Tuan pasti ingat, sewaktu tuan memberi tugas kepada saya untuk membelikan barang yang belum Tuan miliki, dengan semua uang hasil tagihan. Uang itu telah saya gunakan untuk menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan saat itu. Sekarang, giliran merekalah yang menolong kita."

Si pembantu melanjutkan, "Waktu itu, Tuan telah punya semua barang. Hanya satu barang yang tuan belum miliki, yaitu cinta. Maka, waktu itu saya berusaha mendapatkannya, untuk Tuan. Dan cinta itulah yang saat ini memberi kehidupan baru kepada kita. Mudah-mudahan Tuan bisa memahami dan tidak marah lagi atas tindakan saya waktu itu."

Kemudian, dengan mata berkaca-kaca, si bangsawan memeluk pembantu setianya itu. Ia pun berucap, "Sekarang aku baru sadar, aku adalah seorang kaya yang miskin. Miskin cinta, miskin perhatian pada orang lain! Terima kasih sahabat... Maafkan aku karena telah memperlakukanmu dengan semena-mena. Padahal, engkau telah ‘membelikan' cinta yang tidak aku miliki. Sekarang, justru cinta itulah yang menolong kita untuk memulai kehidupan baru."



Sobatku yang Luar Biasa!

Kita hidup di dunia ini tidak sendiri, namun saling bergantung satu sama lain. Kita sangat membutuhkan orang lain agar hidup kita tidak menjadi kaku dan monoton. Disadari atau tidak, manusia secara alami memiliki keterkaitan satu sama lain. Karena itu, apa yang kita lakukan pada orang lain dan apa yang kita perbuat saat ini, bisa memberi dampak yang terkadang tidak kita sangka di masa mendatang.

Sebagaimana yang diceritakan pada kisah di atas, kita mungkin tidak akan menyangka akibat dari perbuatan baik yang kita lakukan.

Mari, asah naluri dan nurani kita agar makin terbiasa membantu orang lain. Dengan begitu, kita telah menanam banyak benih cinta. Kelak, buahnya akan membawa kita pada kebahagiaan yang sesungguhnya.


JANGAN MENGELUH


Alkisah, ada seorang bangsawan kaya raya yang tinggal di sebuah daerah padang rumput yang luas. Suatu hari, karena ternak yang dipunyainya semakin banyak, sang bangsawan memilih 2 orang anak muda dari keluarga yang miskin untuk dipekerjakan. Yang berbadan tinggi dan tegap dipekerjakan sebagai pengurus kuda. Sedangkan yang berbadan kurus dan lebih kecil dipekerjakan sebagai pengurus ternak kambingnya.

Setelah beberapa saat, si badan tegap dengan arogan berkata kepada si badan kecil: "Hai sobat. Aku lebih besar badannya dari badanmu. Aku juga lebih tua darimu. Mulai besok, kita bertukar tempat. Aku memilih untuk mengurus kambing. Dan kamu menggantikan aku mengurus kuda. Awas kalau tidak mau! Dan awas ya, jangan laporkan masalah ini ke tuan kita! Kalau kamu berani lapor atau menolak, tahu sendiri akibatnya! Aku habisi badan kecilmu itu!"

Sore hari, dengan muka murung dan langkah gontai dia pulang ke rumah. Sesampai di rumah, melihat muka murung dan kegalauan anaknya, si ibu bertanya: "Nak, ada apa? Ada masalah apa? Coba ceritakan ke ibu".

Dengan kasih sayang dan kelembutan, mereka berbincang saat makan malam.
Si anak pun menceritakan peristiwa yang tadi terjadi. Dengan bersungut-sungut si anak melanjutkan: "Sungguh tidak adil kan, Bu. Dia mengancam dan memaksa aku untuk mengurus kuda-kuda liar. Dia yang berbadan besar memilih mengurus kambing. Badanku kecil begini, bagaimana aku bisa mengejar-ngejar kuda yang begitu besar. Aduuuh Bu...sungguh jelek nasibku."

‎Sambil menunduk lesu dia menghabiskan santap malamnya.

Si ibu dengan senyum bijak berkata, "Nak. Semua masalah pasti ada hikmahnya. Syukuri, hadapi, dan terima dengan besar hati. Tidak usah memusuhi dan membenci temanmu itu. Ibu percaya, semua kesulitan yang akan kamu hadapi, jika kamu mampu belajar dan kerja keras, pasti akan membuatmu menjadi kuat dan bermanfaat untukmasa depanmu."

Sejak saat itu, si anak kurus itu dengan susah payah setiap hari bergelut dengan pekerjaan mengurus kuda-kuda yang bertubuh tegap, besar, dan masih liar. Dia harus jatuh bangun mengejar mereka, kadang terkena tendangan, bahkan pernah terinjak hingga terluka parah. Dari hari ke hari keahlian dan kemampuannya menguasai kuda-kuda pun semakin membaik. Tidak terasa, tubuhnya pun berkembang menjadi tinggi, tegap dan perkasa.

Hingga suatu hari, terjadi pecah perang antarnegara. Kerajaan membutuhkan prajurit pasukan berkuda. Dan si pemuda pun terpilih sebagai pemimpin pasukan berkuda karena kepiawaiannya mengendalikan kuda-kuda.

 Di kemudian hari, si pemuda berhasil memimpin dan memenangkan perang yang dipercayakan kepadanya dan dikenal banyak orang karena kebesaran namanya. Dia adalah pemimpin bangsa mongol yang tersohor, bernama: Genghis Khan.

Sahabat yang berbahagia,

 Dalam putaran kehidupan sering kali kita dihadapkan pada keadaan yang sepertinya membuat kita dirugikan, menderita, dan kita pun tidak berdaya kecuali harus menerimanya. Kalau kita larut dalam kekecewaan, marah, emosi, pasti kita sendiri yang akan bertambah menderita.

Lebih baik kita anggap ketidaknyamanan sebagai latihan mental dan kesabaran. Mari berjiwa besar dengan tetap melakukan aktivitas yang positif, sehingga sampai suatu nanti pasti perubahan lebih baik, lebih luar biasa akan kita nikmati!

SEIKAT BUNGA UNTUK YANG TERKASIH


Suatu pagi, seorang suami memarahi istrinya. "Aduh Bu, telat nih. Kenapa tidak membangunkan Bapak dari tadi? Rapat hari ini sangat penting, tidak sempat sarapan nih," omel si suami sambil tergesa-gesa berangkat mengendarai mobil menuju kantor, tanpa menghiraukan istrinya lagi.

 Di tengah jalan, karena lapar, pria itu memutuskan membeli roti dan secangkir kopi untuk 'mengganjal' perutnya. Saat berada di luar toko, dia melihat seorang gadis kecil memilih beberapa tangkai bunga di toko bunga sebelah. Ia menguping sejenak pembicaraan anak itu.

"Berapa harga bunga ini, Pak?" tanya anak itu pada si penjual bunga.

"Tiga puluh ribu," jawab pemilik toko. Si anak kemudian meletakkan bunga tadi dan memilih yang lain seraya bertanya, "Kalau yang ini, berapa harganya Pak?"

"Yang itu lima puluh ribu, Nak," jawab pemilik toko dengan sabar.

Kemudian si anak meletakkan lagi bunga-bunga itu ke tempatnya. Dengan sedih dia bertanya perlahan, "Apakah ada bunga yang harganya lima ribu Pak?".

Karena merasa kasihan, sambil membawa roti dan kopinya, pria tadi menghampiri gadis kecil itu dan bertanya, "Nak, kamu membeli bunga untuk siapa?"

"Untuk mama saya. Om. Hari ini, mama ulang tahun."

Pria itu terpana. Tiba-tiba dia teringat bahwa pada hari ini istrinya juga sedang berulang tahun. Karena tergesa-gesa, dia belum sempat mengucapkan selamat ulang tahun kepada istrinya. Lantas, ia pun memutuskan untuk membeli bunga untuk istrinya.

"Pak, saya beli bunga ini. Dua ikat ya. Satu untuk anak ini, satu lagi tolong antar ke alamat ini," kata si pria kepada pemilik toko sambil membayar, menulis nama istrinya dan memberikan kartu namanya.

"Nak, bunga ini Om belikan untukmu sebagai tanda terima kasih karena telah mengingatkan hari ulang tahun istri Om di rumah."

Anak itu dengan gembira menerima bunga sambil mengucapkan terima kasih dan segera pergi.

Setelah beberapa meter menjalankan mobil, pria itu melihat si gadis kecil berjalan searah dengan tujuannya.

"Hai, mau ikut Om sekalian?"

Sambil tersenyum, anak itu menggangguk dan masuk ke mobil. Sampai di tepi jalan yang sepi, si gadis minta turun dan berjalan memasuki sebuah lorong jalan.

Karena penasaran, pria itu mengikutinya diam-diam. Betapa kaget dirinya ketika melihat si gadis kecil rupanya meletakkan bunga di sebuah gundukan tanah merah yang masih basah.

"Nak, ini kuburan siapa?"tanyanya sambil berjongkok di sebelah si gadis.

"Ini kuburan mama saya, Om. Hari ini hari ulang tahun mama, sayangnya tiga hari yang lalu mama meninggal dunia."

Jawaban itu membuat si pria terharu dan membuatnya merasa sangat bersyukur. "Terima kasih Tuhan, orang yang kusayangi masih hidup dan masih ada kesempatan bagiku untuk memperbaiki kesalahan tadi pagi."

Tak lama, ia bergegas pergi dari sana dan kembali ke toko bunga tadi. Ia ingin membawa dan memberikan sendiri bunga yang telah dipesan kepada istrinya.

Pembaca yang Luar Biasa!

Pada zaman yang semakin maju seperti sekarang ini, perhatian dan kasih sayang sering kali terkalahkan oleh alasan kesibukan, tidak ada waktu, belum ada kesempatan, serta berjuta alasan lain yang kadang sering dibuat-buat.

Dengan alasan kesibukan atau bahkan mengejar karir, tanpa sadar kita sudah mengesampingkan sisi humanis kita. Hal inilah yang kadang membuat kita merasa sudah cukup berbuat sesuatu kepada seseorang dengan hanya mengirim pesan singkat melalui SMS, menelepon, atau mengirim e-mail. Memang, perhatian dengan cara seperti itu tidak salah. Namun, akan jauh lebih bermakna jika hari-hari kita dihiasi dengan komunikasi yang intens dengan sekeliling kita. Dengan mencurahkan perhatian kepada keluarga, saling menyapa dengan tetangga, saling mendukung dengan kerabat di kantor, akan membuat hidup ini terasa lebih berarti.

Mari, selagi masih ada kesempatan, berikan perhatian dan cinta kasih kepada sekeliling kita. Dengan memberikan harapan, perhatian, kasih sayang dari dan untuk orang lain, dengan hadirnya orang-orang di sekitar kita dan yang kita cintai, hidup akan terasa lebih ‘hidup'. Setuju kan?
Sumber : Andrie Wongso

BATU YANG KUSAM


Alkisah, suatu hari seorang gadis menemukan sebongkah batu kusam di pinggir jalan. Meski hanya batu biasa, si gadis memungutnya dan menyimpannya baik-baik. Bahkan, setiap hari ia menggosok batu itu dengan hati-hati. Batu yang bukan permata itu dan karena terus digosok dan digosok, lama-kelamaan berubah menjadi mengkilat dan bersinar.

Si gadis pun membawa batu itu ke tukang permata untuk diolah menjadi sebuah liontin yang indah. Ajaibnya, di tangan ahlinya batu biasa itu berubah hingga menyerupai batu permata. Begitu berkilau dan sangat indah. Si gadis sungguh gembira melihat batu biasanya bisa berubah begitu rupa. Ia pun memamerkannya pada siapa pun yang dijumpainya. Sudah diduga, semua orang yang melihat mengira batu itu adalah permata yang mahal harganya. Si gadis semakin percaya diri dan selalu memakai liontinnya ke mana pun ia pergi.

Hingga suatu hari liontin batu itu terlepas dari ikatannya. Si gadis baru menyadari lama setelah itu, jadi dia sungguh tak tahu liontinnya hilang di mana. Hal ini membuatnya sangat sedih. Dia pun jadi kehilangan selera makan dan tidak bersemangat. Sampai suatu hari ada seorang kakek yang melihatnya sedang termenung. Bertanyalah si kakek tentang kesedihannya. Si gadis pun menceritakan semuanya.

 Setelah si gadis selesai bercerita, berkatalah si kakek, "Anakku, sadarilah semua hal yang telah kamu lalui itu adalah proses menuju keberhasilanmu. Dulu kamu menemukan batu kusam di jalanan. Lalu, kamu mengambil dan menjaganya baik-baik. Selalu menggosoknya hingga akhirnya menjadi mengkilat. Dan di tangan tukang permata, batu itu menjadi lebih indah lagi, mirip permata. Ketahuilah, semua itu hanyalah proses. Dulu kamu tekun menjalani setiap tahapan mengubah batu kusam menjadi sebuah benda yang terlihat berharga. Batu itu sebenarnya hanyalah batu. Keuletanmu menjaganya itulah yang membuatnya lebih bernilai.

Lalu, mengapa kamu jadi bersedih hanya karena kehilangan batu itu? Lihat di sekitarmu, masih banyak batu-batu kusam yang dapat kau jadikan batu yang berkilat indah. Ciptakan lebih banyak karya indah yang akan menceriakan hari-harimu dan membuat wajahmu berseri-seri. Itu jauh lebih penting daripada meratapi seonggok batu kusam yang hilang."

Seketika si gadis diliputi kecerahan dan keceriaan. Dia sudah menyadari kebodohannya. Si gadis pun dengan gembira siap berusaha dan memproses lagi batu kusam menjadi permata.

Sahabat yang berbahagia,

Kesuksesan sejati itu selalu diraih melalui proses perjuangan yang panjang dan berliku. Saat kesuksesan sudah di tangan kita, bisa saja kita mengalami kemunduran, kegagalan, dan kebangkrutan. Tidak usah takut, hidup ini selalu berubah. Jika kita gagal, kita frustrasi; dan saat kita sukses, kita lupa diri. Inilah baru bencana yang sebenarnya. Selama kita bersedia berjuang dari awal lagi dan tekun menjalani langkah demi langkahnya, keberhasilan demi keberhasilan akan kembali pada kita. Dan kebahagiaan akan kembali kita rasakan.

Sumber : Andrie Wongso

Kamis, 31 Mei 2012

KETIKA HIDUP BEGITU SULIT

Seorang profesor berdiri di depan kelas filsafat dan mempunyai beberapa barang di mejanya.

Saat kelas dimulai, dia mengambil sebuah toples kosong yang besar dan mulai mengisinya dengan bola golf.

Kemudian dia berkata pada mahasiswanya, apakah toples itu sudah penuh? Mahasiswa menjawab "Ya!" Jawab mahasiswa.

Kemudian professor mengambil sekotak batu kerikil dan memasuk...kannya ke dalam toples. Batu2 kerikil masuk mengisi tempat kosong diantara bola2 golf.
Kemudian si profesor bertanya ke mahasiswanya, apakah toples sudah penuh?
"Ya!" Jawab mereka lagi.

Selanjutnya profesor menuang sekotak pasir ke dalam toples, pasir tersebut memenuhi toples. Profesor bertanya lagi ke mahasiswanya, apakah toples sudah penuh?
"Ya!"

Professor kemudian menuangkan secangkir teh ke dalam toples dan secara langsung mengisi ruang kosong diantara toples tersebut.

Para murid terheran...(apa maksudnya)

Kemudian profesor mulai menjelaskan

"Maksudnya adalah toples ini ibarat kehidupanmu."

"Bola2 golf adalah hal-hal yang penting - Tuhan, keluarga, anak2, kesehatan, kerabat dan teman. Jika segala sesuatu hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh."

"Batu2 kerikil mewakili kekayaan mu, karirmu, rumah dan mobilmu."
"Pasir adalah hal2 yang sepele."

"Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples," lanjut profesor, "Maka tidak akan ada ruang yang tersisa untuk batu2 kerikil dan bola2 golf. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu."

"Jika yang pertama kali kalian masukkan dalam hidup adalah hal2 sepele, maka tidak akan ada ruang untuk Tuhan, keluarga, anak2, teman dan kerabat. "
"Jika kalian menghabiskan energi untuk hal2 yang tidak penting, kalian tidak akan memiliki ruang untuk hal-hal yang penting."

"Jadi...."

"Berilah perhatian untuk hal-hal yang penting untuk kebahagiaanmu. Mendekatkan diri pada Tuhan, selalu luangkan waktu untuk orang2 yang anda kasihi, orang tua, anak2, pasangan anda. Berikanlah perhatian terlebih dahulu pada bola2 golf dan yang terakhir baru urus pasirnya."

Kemudian salah satu mahasiswa bertanya, "Kalau teh yang Bapak tuangkan, mewakili apa?"

Profesor menjawab sambil tersenyum." Saya menunggu pertanyaan itu. Hal itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah begitu penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir teh bersama sahabat." :-)

Diterjemahkan oleh “AA” dari “GOOGLE BOTTLE” . May be Useful.

MENAJAMKAN KAPAK

Alkisah ada seorang penebang pohon yang sangat kuat. Dia melamar pekerjaan pada seorang pedagang kayu, dan dia mendapatkannya. Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat baik. Karenanya sang penebang pohon memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin.

Sang majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerjanya. Hari pertama sang penebang pohon berhasil merobohkan 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan berkata, “Bagus, bekerjalah seperti itu!” Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari sang penebang pohon bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon.

Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon. Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedikit. “Aku mungkin telah kehilangan kekuatanku”, pikir penebang pohon itu. Dia menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi. “Kapan saat terakhir kau mengasah kapak?” sang majikan bertanya. “Mengasah? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak. Saya sangat sibuk mengapak pohon,” katanya.

Catatan:
Kehidupan kita sama seperti itu. Seringkali kita sangat sibuk sehingga tidak lagi mempunyai waktu untuk mengasah kapak. “Di masa sekarang ini, banyak orang lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi mereka lebih tidak berbahagia dari sebelumnya.” Mengapa? Mungkinkah kita telah lupa bagaimana caranya untuk tetap tajam?

Tidaklah salah dengan aktivitas dan kerja keras. Tetapi tidaklah seharusnya kita sedemikian sibuknya sehingga mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sangat penting dalam hidup, seperti kehidupan pribadi, menyediakan waktu untuk membaca, dan lain sebagainya. Kita semua membutuhkan waktu untuk tenang, untuk berpikir dan merenung, untuk belajar dan bertumbuh.

Bila kita tidak mempunyai waktu untuk mengasah kapak, kita akan tumpul dan kehilangan efektifitas. Jadi mulai dari sekarang, pikirkanlah cara bekerja yang lebih efektif dan menambahkan banyak nilai ke dalamnya.


MUSUH UTAMA POHON


Ketika manusia mulai pandai melebur biji besi menjadi batang besi, lalu menempa dan membentuk lempengan, kemudian mengasahnya menjadi sebilah mata kapak yang tajam; ketika itulah pohon-pohon di dunia mulai khawatir akan nasib mereka. Pohon-pohon melihat semakin hari semakin banyak kerusakan yang diperbuat oleh manusia dengan kapak-kapaknya. Berbondong-bondong manusia memanggul kapak memasuki hutan dan menebangi pohon-pohon.

Apa jadinya bila dunia tanpa hutan yang lebat? Apa jadinya bila dunia tanpa pohon. Namun pohon tak bisa berbuat banyak. Pohon hanya bisa menitikkan air mata dan geram saat memandang satu-per-satu pohon lain bertumbangan akibat dikapaki oleh manusia-manusia. Kerusakan pohon sudah sedemikian dashyatnya.
Kini hanya tertinggal sebatang pohon di hutan itu yang merintih, “Oh, mengapa manusia menciptakan kapak yang digunakan untuk menebangi pohon-pohon? Sungguh kejam kapak itu.”

Rintihan itu terdengar oleh seorang penebang yang menjawabnya sambil tertawa-tawa, “Ha..ha..ha.. wahai pohon lihatlah, sebilah mata kapak ini takkan bisa melukaimu begitu parah bila tak dilengkapi dengan pegangan yang terbuat dari kayu yang kuat. Sadarkah kau bahwa kayu itu berasal dari pohon – yaitu dirimu sendiri!”

Pohon, “Haaah..???”

Renungan:
Ketidakbahagiaan dapat ditelusuri ke dalam diri sendiri. Dan kenyataannya seringkali musuh terbesar seseorang justru adalah dirinya sendiri. (Adapted from The Illustrated Heart Sutra – Tsai Chih Chung)


ULAT DAN POHON MANGGA


Seekor ulat yang kelaparan terdampar di tanah tandus. Dengan lemas ia menghampiri pohon mangga sambil berkata, “Aku lapar, bolehkah aku makan daunmu?”

Pohon mangga menjawab, “Tanah di sini tandus, daunku pun tidak banyak. Apabila kau makan daunku, nanti akan berlubang dan tidak kelihatan cantik lagi. Lalu aku mungkin akan mati kekeringan. Hmmm.. tapi baiklah, kau boleh naik dan memakan daunku. Mungkin hujan akan datang dan daunku akan tumbuh kembali.”

Ulat naik dan mulai makan daun-daun si pohon manga. Ia hidup di atas pohon itu sampai menjadi kepompong dan akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.

“Hai pohon mangga, lihatlah aku sudah menjadi kupu-kupu. Terima kasih karena telah mengizinkan aku hidup di tubuhmu. Sebagai balas budi, aku akan membawa serbuk sari hingga bungamu dapat berbuah.”

Sahabat yang luar biasa! Dalam hidup, kita sering memperhitungkan untung rugi pengorbanan yang dilakukan. “Jika saya memberi, saya akan kekurangan. Bagaimana mengatasinya?” Atau, “Bagaimana kalau ternyata saya di tipu?”

Tapi sadarkah Anda, setiap kita memberi, ada sepercik suka cita di hati? Bunda Teresa pernah berkata, “Lakukan apa yang menjadi bagianmu, dan jangan berpikir apa yang akan kita dapat.” Bila ingin memberi, lakukan saja karena semuanya akan kembali ke kita juga.


ANAK LAKI-LAKI DAN KUPU-KUPU

Suatu hari ada seorang anak laki laki sedang memperhatikan sebuah kepompong. Ternyata didalam kepompong itu ada seekor kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong itu. Kelihatannya begitu sulitnya. Si anak laki-laki tersebut merasa kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir bagaimana caranya untuk membantu si kupu-kupu agar bisa keluar dengan mudah.

Akhirnya si anak laki-laki tadi menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar kupu-kupu bisa segera keluar dari kepompong. Alangkah senang dan leganya si anak laki-laki itu setelah si kupu-kupu berhasil dikeluarkannya dari kepompong.

Tetapi apa yang terjadi?

Si kupu-kupu memang bisa keluar dari sana. Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap. Apa sebabnya?

Ternyata bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang untuk keluar dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam tubuhnya yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi perjuangan karena dibantu oleh si anak laki-laki, maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap.

Kadangkala niat baik kita (good intention) belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang, memandulkan kreativitas, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya, mereka justru menjadi KUAT.

Demikian juga pada saat kita sedang harus berjuang menghadapi sesuatu, jangan mengharapkan bantuan orang lain, berjuanglah dahulu dengan mengerahkan segala kemampuanmu.

Hidup penuh dengan perjuangan yang bisa membuat “SAYAP” kita bisa terkembang dengan sempurna, untuk kita pakai “TERBANG” melewati masalah kita.

Sumber: selamatpagi.net


MENGAPA BEBEK MENGUIK DAN ELANG TERBANG


Suatu ketika, Harvey Mackay (sang pembicara motivasi) sedang menunggu antrian taksi di sebuah bandara. Lalu, sebuah taksi mengkilap muncul dan mendekatinya. Sang supir taksi pun keluar dengan berpakaian rapi, dan segera membukakan pintu penumpang, kemudian memberi Harvey sebuah kartu dan berkata,”Nama saya Wally, silakan membaca pernyataan Misi saya.”

Harvey kemudian membaca kartu tersebut:
“Misi Wally: Mengantar pelanggan ke tempat tujuan dengan cara tercepat, teraman,dan termurah dalam lingkungan yang bersahabat.”

Harvey terkejut, terutama setelah ia melihat bagian dalam taksi sangat bersih.

Di balik kemudi, Wally berkata:
“Apakah Anda ingin kopi? Saya punya yang biasa dan tanpa kafein.”

Harvey pun berkata “Tidak, saya ingin minuman ringan saja.” ternyata Wally menjawab, “Tak masalah, saya punya pendingin dengan Coke biasa dan Diet Coke, air, serta jus jeruk.” Dengan terkagum-kagum, Harvey berkata “Saya mau Diet Coke saja.”

Setelah memberikan Diet Coke, Wally pun kembali menawarkan, “Jika Anda ingin membaca, saya punya The Wall Street Journal, Time, Sports Illustrated dan USA Today.”

“Apakah kau selalu melayani pelanggan seperti ini, Wally?” tanya Harvey.

“Dulu saya suka mengeluh seperti kebanyakan supir taksi. Kemudian saya mendengar Wayne Dyer di radio yang mengatakan bahwa ia baru saja menulis buku berjudul ‘You’ll See It When You Believe It’. Ia mengatakan bahwa jika Anda bangun dan mengharap hal buruk terjadi, maka itu hampir pasti terjadi. Dan ia berkata lagi, ‘Berhenti mengeluh! Berbedalah dari pesaing Anda. Jangan menjadi BEBEK..Jadilah ELANG.. BEBEK menguik dan mengeluh. ELANG membumbung tinggi diAngkasa.’”

Cerita Wally sungguh inspiratif. Ia memberi layanan sebuah limo dari sebuah taksi, melipatgandakan penghasilan, karena ia memilih untuk menjadi Elang dan bukannya Bebek.

Mengeluh tidak merubah nasib jadi baik, malah jadi tambah sulit.

Sumber : selamatpagi.net


KISAH INSPIRASIONAL DARI SEORANG HAKIM YANG ADIL

Di ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong. Nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, dan cucunya kelaparan. Namun seorang ...laki yang merupakan manajer dari PT yang memiliki perkebunan singkong tersebut tetap pada tuntutannya, dg alasan agar menjadi cnth bagi warga lainnya.

Hakim menghela nafas. dan berkata, “Maafkan saya, bu”, katanya sambil memandang nenek itu.

”Saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. Saya mendenda anda Rp 1 juta dan jika anda tidak mampu bayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU”.

Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam. Namun tiba-tiba hakim mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang Rp 1 juta ke topi toganya serta berkata kepada hadirin yang berada di ruang sidang.

‘Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini, sebesar Rp 50 ribu, karena menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.

"Saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.”

sebelum palu diketuk nenek itu telah mendapatkan sumbangan uang sebanyak Rp 3,5 juta dan sebagian telah dibayarkan kepanitera pengadilan untuk membayar dendanya, setelah itu dia pulang dengan wajah penuh kebahagian dan haru dengan membawa sisa uang termasuk uang Rp 50 ribu yang dibayarkan oleh manajer PT yang menuntutnya.

Semoga di indonesia banyak hakim yang adil seperti di atas.

SEBUAH CERITA YANG MEMBUAT SAYA MALU DENGAN TUKANG BECAK


Stasiun Tugu Jogja..
Seorang pengusaha sukses dari Jakarta sedang ingin bernostalgia dengan masa lalunya, dengan naik kereta dia turun di stasiun Tugu, dia ingin santai berkeliling Jogja dengan naik becak. Kebetulan tukang becak itu ada didepannya..
“antarkan saya keliling kota pak, baru nanti menuju hotel” pinta pengusaha itu.
“mon...ggo ndoro” jawab tukang becak itu girang, pagi2 sudah dapat rejeki.

Mereka berkeliling kota, berhenti di beberapa tempat yg diminta si pengusaha. Sampai akhirnya menjelang siang mereka menuju sebuah hotel.

Ketika si pengusaha turun dari becak, dan akan membayar tiba-tiba sayup terdengar suara adzan Dzuhur dari masjid. Si tukang becak tersentak, dia tiba-tiba ingat kalau hari ini adalah hari Jumat! Setengah hatinya menangis dia ingin membatalkan niatnya bersedekah di hari jumat, setelah seharian lelah mengantarkan keliling kota, ada rejeki yang banyak di depan mata. Sementara setengah hatinya lagi “nggondeli” menahan agar dia tetap meneruskan niatnya..
Dengan halus tukang becak itu berkata..

“Bapak, terimakasih untuk pemberian bapak, tapi saya tidak bisa menerimanya karena hari ini hari Jumat.. Saya sudah berjanji setiap hari jumat siapapun yang naik becak saya tidak saya pungut bayaran, saya ingin niat sedekah saya tidak luntur karena uang ini..”

Si pengusaha terkejut mendengarnya, setelah seharian mandi keringat mengantarkannya keliling kota, dengan nafas yang ngos-ngosan, tukang becak ini masih sanggup mempertahankan niat yg sudah diucapkan hatinya…

Dengan mata berkaca-kaca, pengusaha itu berkata,
“Pak, saya akhirnya menemukan jawabannya! Entah mengapa minggu ini hati saya gelisah, saya seperti ditunjukkan jalan untuk kembali ke Jogja bukan hanya untuk bernostalgia, tapi juga menguatkan niat saya. Tahun ini saya akan naik haji pak, dan saya belum menemukan siapa orang yang akan menemani saya berangkat ke tanah suci. Dan hari ini saya ditunjukkan oleh Allah langsung, dengan kebersihan hati bapak, dengan niat bersih saya ingin bapak yang menemani saya naik haji tahun ini. Semua biaya dan surat-surat akan saya urus segera, mari pak kita menghadap Allah bersama-sama…”

Gantian si tukang Becak yang terbengong-bengong… Lalu nangis “ngguguk” mendengar ajakan si pengusaha. Jika Allah berkehendak, orang yang memiliki energi yang sama akan dipertemukan di jalan yang tidak disangka-sangka..

TETESAN AIR



 
Alkisah ada sebuah botol yang berisikan air yang jernih. Setiap tetesan air di dalam botol itu merasa berbangga diri karena mereka sangat bersih dan jernih. Hari lepas hari mereka saling mengucapkan selamat karena kejernihan dan kebersihan diri mereka.

Hingga suatu hari, salah satu tetesan air itu menjadi bosan dengan keadaannya yang superbersih dan jernih. Dia ingin tahu rasanya menjadi tetesan yang kotor. Meski tetesan air lainnya berusaha keras membujuk dan mencegahnya, dia tetap bersikukuh pada niatannya.

Tanpa diduganya, ketika tetesan itu kembali ke dalam botol dengan keadaan yang sangat kotor ternyata dirinya membuat semua tetesan air di dalam botol menjadi kotor juga. Mereka berusaha membersihkan diri mereka, tapi sia-sia. Mereka telah mencoba segala cara untuk menghilangkan noda-noda kotor itu.

Akhirnya, ada seseorang yang mencemplungkan botol itu ke dalam sebuah air mancur. Dan begitu masuk banyak air bersih ke dalam botol, tetesan-tetesan air yang kotor itu kembali bersih dan jernih. Sekarang mereka semua tahu kalau mereka ingin menjadi bersih, setiap mereka juga harus tetap bersih. Meski kadang hal itu sangat sulit. Karena untuk memperbaiki kesalahan satu tetesan dibutuhkan kerja keras dari semua tetesan.

***

Hal yang sama juga bisa terjadi pada diri kita dan lingkungan sekitar kita. Jika kita ingin tinggal di dalam lingkungan yang positif, setiap kita harus menjadi pribadi yang positif. Jangan sampai ada yang melakukan hal negatif karena satu orang saja yang berbuat demikian akan berdampak besar bagi orang lainnya.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sudah menjadi "tetesan air yang bersih"?

Sumber : AW Corner